Kasus Pengaturan Skor yang Mengguncang Sepak Bola Dunia

Juventus

Kasus Pengaturan Skor yang Mengguncang Sepak Bola Dunia.

Sepak bola yakni olahraga yang menjunjung tinggi skor sportivitas. Sebab itu, tiap pemain atau tim mesti mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku dalam tiap lomba.

Tetapi kadang terdapat sebagian pihak yang mau merusak esensi dari sepak bola demi profit mereka dengan membatasi alur atau hasil dari sebuah atau sebagian lomba.

Berbagai penangkapan yang dilakukan di Spanyol berhubungan dengan dugaan penguasaan skor yang terjadi di divisi kedua (Segunda Division) dan sebagian lomba divisi teratas (La Liga) mengingatkan kembali mengenai pelbagai kasus lainnya yang pernah terjadi di dunia.

Walau sudah jelas melanggar peraturan, penguasaan skor tetap menjadi salah satu noda dalam sejarah sepak bola dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Berikut yakni lima skandal penguasaan skor dalam dunia sepak bola internasional seperti dikabarkan 90min.

Jerman Barat Vs Austria (1982)

Biasanya lomba terakhir dalam fase grup sebuah turnamen diadakan secara bersamaan, tapi hal ini belum terjadi pada Piala Dunia 1982 yang diadakan di Spanyol. Pertandingan yang menerima sorotan saat itu yakni lomba antara Jerman Barat dan Austria.

Ketika itu Jerman Barat dan Austria berhadapan dalam lomba terakhir dan memahami bahwa kemenangan 1-0 untuk Jerman Barat akan membikin kedua tim lolos dan menyebabkan Aljazair tersingkir.

Kurang dari sepuluh menit pada babak pertama, Jerman Barat lantas menerima keunggulan yang akan membikin mereka dan Austria lolos. Pada alhasil kedua tim cuma memberikan umpan satu sama lain sampai akhir lomba. Peristiwa ini disebut “Pertandingan Memalukan di Gijon” dan menyebabkan FIFA membikin peraturan baru dengan menyelenggarakan tiap lomba terakhir fase grup pada waktu bersamaan.

Marseille Vs Valenciennes (1993)

Olympique Marseille di Prancis sedang berada pada puncak kesuksesan mereka pada 1993 setelah menerima gelar pemenang Champions League pertama dan juga titel Ligue 1 untuk empat kali secara beruntun. Tetapi pada tahun itu juga mereka terlibat dalam kasus yang menodai sejarah mereka.

Bernard Tapie yang saat itu berposisi sebagai pemilik Marseille rupanya sudah memberikan sogokan terhadap Valenciennes untuk mengalah agar timnya dapat menghindari cedera jelang lomba final Champions League.

Kasus itu membikin Marseille terdegradasi ke Ligue 2 dan Tapie dilarang untuk terlibat dalam dunia sepak bola dalam sisa hidupnya.

Bruce Grobbelaar (1994)

Kiper legendaris Liverpool, Bruce Grobbelaar. © Liverpool Echo

Kasus Pengaturan Skor amat jarang terjadi di Inggris, elemen yang membikin pendukung di negara tersebut dapat merasa bangga dengan integritas dari sepak bola di negara tersebut. Hal ini membikin kasus yang terjadi pada 1994 amat mengagetkan.

Ketika itu penjaga gawang Liverpool, Bruce Grobbelaar, dan dua pemain Wimbledon, Hans Segers dan John Fashanu, didakwa terlibat dan menjalani pengerjaan persidangan. Sampai saat ini ketiganya masih menentang keterlibatan mereka.

Pada alhasil pengerjaan persidangan yang berlangsung sebanyak dua kali tidak dapat menjadikan vonis dan ketiga pemain tetap dapat terlibat dalam dunia sepak bola.

Calciopoli (2006)

Salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, kasus Calciopoli terjadi pada 2006 dan juga mengagetkan dunia sepak bola. Otoritas Italia menyadap sebagian percakapan di telepon dan mengenal adanya pihak manajemen klub yang terlibat dengan asosiasi wasit untuk memilih wasit yang dapat memberikan profit terhadap klub mereka masing-masing.

Klub-klub seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina menerima hukuman pengurangan skor dan larangan tampil dalam persaingan Eropa. Juventus menjadi klub yang menerima hukuman terberat dengan pencabutan dua gelar pemenang Serie A yang diberi terhadap Inter Milan, dan kemudian diwariskan ke divisi kedua (Serie B).

Serie C Italia (2011)

Kembali ke Italia, pada 2011 terdapat Kasus Pengaturan Skor yang juga mengagetkan, kali ini di divisi ketiga (Serie C). Kali ini pelaku yang melakukan penguasaan atau yang berupaya menetapkan hasil lomba yakni penjaga gawang Paganese.

Marco Paolini rupanya meracuni minuman yang diterapkan oleh para pemain Cremonese yang membikin mereka tidak dapat menampakkan kinerja yang optimal saat kedua tim berhadapan. Paolini melakukan hal tersebut untuk melunasi utang yang didapatnya imbas perjudian.

Pada alhasil Paolini menerima hukuman larangan terlibat dalam dunia sepak bola selama lima tahun.

Pesta Gol Liga Nigeria (2013)

Pindah ke benua Afrika, tepatnya ke Nigeria, skandal penguasaan skor yang terjadi di divisi kedua negara tersebut mengagetkan dunia pada 2013 imbas dua kejadian yang mengagetkan dalam upaya tim yang terlibat untuk masuk ke divisi teratas.

Plateau United Feeders dan Police Machine memperebutkan karcis terakhir untuk masuk ke divisi teratas. Feeders menghadapi Akurba dan unggul 7-0 pada babak pertama, sementara Police unggul 6-0 atas Babayaro FC.

Pada babak kedua, Feeders menerima tambahan 72 gol dan meraih kemenangan 79-0 atas Akurba, membikin mereka menerima karcis promosi imbas Police yang “cuma” menerima kemenangan 67-0 atas Babayaro FC. Keempat tim yang terlibat menerima larangan untuk beroperasi selama sepuluh tahun.